KAMSRI KU!
Bertepatan dengan pelantikan Pengurus DPP KAMSRI Periode 2025-2030 pada 26 Oktober 2025 di Jakarta, senior kami Kakanda Anwar Mahadra mengirimkan dari arsipnya tulisan yang dimuat dalam Buletin Batang Hari Sembilan terbit perdana Agustus 1986. Buletin ini merupakan media informasi dan komunikasi “warga KAMSRI” di Jakarta.
Penulis sebagai salah seorang yang merasakan tempaan dan asuhan para senior angkatan permulaan “asabikunal awwalun” dari Keluarga Muda yang bertansformasi menjadi Kesatuan Angkatan Muda Sriwijaya (KAMSRI), kiranya organisasi masyarakat Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yang meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung ini tentu tidak saja dituntut untuk mempertahankan eksistensi keberadaannya, tetapi perlu terus dikembangkan serta diperluas peran konkritnya bagi pembagunan daerah dan memajukan kehidupan masyarakat berbangsa, bernegara, bahkan kontribusinya di level percaturan dunia.
Sebagai ucapan selamat kepada Pengurus DPP KAMSRI, penulis ketengahkan kembali tulisan dari abad tersebut dengan harapan menginspirasi bagi KAMSRI “zaman now” sekaligus menyambungkan silaturrahim lintas generasi.
KAMSRI KU!
Robinson Crusoe pernah mencoba hidup sendiri. Tetapi apa nyana, ia tak tahan, lalu muncullah tokoh Friday untuk menemaninya. Arjuna, tokoh wayang yang sering bertapa dan menyendiri, akhirnya kembali ke tengah-tengah keluarganya. Adam di surga yang serba ada dan menyenangkan pun merasa sangat gelisah karena kesepian. Maka dijadikanlah Hawa sebagai teman sekaligus istrinya.
Mengapa demikian? Karena sejak lahir manusia sudah mempunyai naluri untuk hidup bersama orang lain (gregariousness).
Kita memang tidak mungkin hidup sendiri. Tanpa manusia lain, kita akan mati, sebab kita tidak mempunyai alat fisik yang cukup untuk bertahan hidup sendirian. Kita memerlukan bantuan orang lain. Dalam arti yang lebih luas, kita memiliki banyak kepentingan terhadap sesama manusia.
Kondisi seperti inilah yang menuntut manusia untuk berhubungan dengan manusia lain. Hubungan ini pada gilirannya menimbulkan kelompok sosial (social group) yang dimulai dari keluarga, RT/RW atau desa, kota, daerah, dan seterusnya. Kadang-kadang kelompok sosial terbentuk atas dasar kepentingan bersama, wilayah, jenis, hubungan darah, derajat, dan sebagainya—baik secara formal maupun informal.
Dalam konteks ini, faktor perasaan, pikiran, dan kehendak tidak dapat dipisahkan begitu saja. Misalnya, ketika kita berada di perantauan, jauh dari daerah asal. Sementara itu, di sekitar kita ternyata ada orang-orang lain yang sedarerah dengan kita. Maka timbullah perasaan ingin bersatu dan berkumpul bersama, berbagi rasa, pengalaman, ilmu, saling mengenal, saling membantu, dan sebagainya. Dari sinilah tercipta rasa kekeluargaan, keakraban, dan kebersamaan yang penuh dinamika dalam berbagai implikasinya.
Tidaklah mengherankan jika kemudian lahir organisasi KAMSRI, sebuah kelompok sosial yang bersifat formal, yang berdiri di atas dasar-dasar tersebut di atas.
Hal-hal yang hendaknya kita penuhi bersama dalam kaitan ini adalah: pertama, menanamkan kesadaran, bahwa kita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KAMSRI, sehingga kita memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kelanjutan hidup organisasi ini. Kedua, menjalin hubungan timbal balik antara sesama anggota: saling memberi, saling membantu, saling mendukung, dan saling menasihati untuk kemajuan bersama. Ketiga, menumbuhkan rasa persatuan, karena kita telah diikat oleh rasa senasib: sama-sama merantau di tempat ini, jauh dari kampung halaman. Keempat, bekerja sama dan bergotong royong, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul dalam rangka menata, menghiasi, menyemarakkan, dan menghidupkan organisasi tercinta ini.
Mari kita berusaha, berkorban, dan memberikan dukungan, baik secara moral maupun material/finansial. Sebab tanpa itu semua, KAMSRI akan kembang-kempis, lesu dan tak berdaya—padahal kita semua cukup kuat dan memiliki potensi besar untuk menunjangnya.
Mari kita gaungkan bersama kata-kata ini:
“Hiduplah Kamsriku!”
“Kami di belakangmu, siap selalu mendukungmu!”


Penulis: Drs. KH. Mudrik Qori, MA
Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan Indonesia, Sekretaris Umum KAMSRI (1985-1990)
